Negeri Seribu Gunung
0 komentar Published Kamis, 09 September 2010 by jagurdermuluk in geografi IndonesiaMeletusnya Gunung Sinabung di Sumatera Utara pada medio akhir Agustus lalu semakin menandakan bahwa Indonesia memang kaya akan gunung berapi dan juga rawan bencana. Sebelumnya, tidak banyak pihak yang mengira bahwa Gunung yang tertidur selama 400 tahun itu akan meletus kembali.
Indonesia, sebagai sebuah negara kepulauan terbesar di dunia memang kaya dalam segi geografis. Kekayaan itu bukan hanya bersumber dari lautan yang memang sudah diandalkan bangsa ini sejak dahulu kala namun juga bersumber dari daratan yang didalamnya terdapat gunung-gunung.
Gunung di Indonesia terbagi dua yaitu gunung berapi dan non-berapi. Jumlah keduanya diperkirakan jika digabungkan mencapai ribuan dengan beberapa ratus di antaranya adalah gunung berapi. Di Indonesia sendiri gunung berapi pun juga terbagi dua yaitu yang aktif dan tidur.
Dalam peta vulkanik dunia hampir semua pulau di Indonesia (kecuali Kalimantan dan Papua) ditempati banyak gunung berapi. Hal ini dikarenakan karena Indonesia adalah kepulauan yang dilewati oleh dua sirkum yaitu pasifik dan mediterania. Kebanyakan gunung-gunung berapi tersebut berpusat di Jawa sehingga memang dalam beberapa dekade sering terdengar letusan gunung di pulau ini seperti letusan Gunung Merapi, Galunggung, Papandayan, Bromo dan lainnya. Sedangkan di pulau-pulau lainnya seperti Sumatera jarang terdengar sebelum akhirnya Sinabung menonjolkan diri. Sebelum Sinabung di Sumatera yang paling sering terdengar adalah Kerinci dan Talang. Di Sulawesi adalah Soputan, Maluku Ibu, dan kepulauan Sunda kecil dalam hal ini Nusa Tenggara Barat dan Timur adalah Rinjani dan Egon. Sedangkan Bali yang terakhir kali meletus adalah Batur, gunung tertinggi kedua di pulau tersebut setelah Agung. Namun, itu sekitar 11 tahun yang lalu.
Selain gunung berapi di daratan terdapat juga gunung berapi di lautan. Sebut saja Krakatau dan beberapa gunung bawah laut di Laut Banda, Maluku. Mengenai Krakatau hampi semua masyarakat Indonesia dan juga dunia mengenalnya sebagai gunung berapi dengan letusan paling dahsyat sepanjang sejarah umat manusia. Gunung itu sendiri meletus pada 1883 ketika Indonesia masih dikuasai oleh pemerintah kolonial Belanda. Tercatat banyak korban jiwa akibat letusan tersebut yang tersebar di Banten dan Lampung. Akibat letusan gunung itu juga kawasan-kawasan dekat gunung seperti Jakarta dan Tangerang diliputi awan gelap sehingga banyak yang menyangka akan terjadi kiamat. Dampak yang dirasakan tidak hanya di Indonesia saja tetapi juga di seluruh dunia yaitu dengan adanya perubahan iklim yang tidak menentu. Hal yang demikian juga berlaku pada saat Tambora meletus beberapa puluh tahun sebelum Krakatau. Letusan gunung yang berada di Sumbawa, NTB tersebut pada kenyataannya juga tidak hanya berdampak pada masyarakat sekitar gunung namun juga menyebabkan dampak iklim yang lebih parah di berbagai belahan dunia dan itu terkenal dengan sebutan tahun tanpa musim panas. Dampak itu juga yang menyebabkan Napoleon kalah oleh sekutu di Waterloo.
Pada kenyataannya adanya gunung berapi terutama di Indonesia terlihat begitu menyeramkan jika dilihat dari letusan dan jumlah korbannya. Namun setidaknya ada juga hal-hal positif yang bisa diambil terutama dalam bidang yang bisa meningkatkan ekonomi. Selain juga ternyata bisa menyuburkan tanah, keberadaan gunung-gunung berapi itu juga bisa dijadikan obyek wisata karena keindahannya dan bahkan bisa juga dijadikan taman nasional dan jalur pendakian. Sudah banyak sekali gunung di Indonesia yang dijadikan seperti itu dan hasilnya cukup untuk menghidupi masyarakat sekitar dan menyumbang devisa.
Dalam tulisan ini juga saya ingin mengatakan bahwa di Indonesia tak hanya didominasi saja oleh gunung-gunung berapi atau non-berapi yang sifatnya tropis karena rupanya di ujung timur Indonesia tepatnya di Papua terdapat sebuah gunung bernama Puncak Jaya. Gunung ini sendiri berbeda dengan gunung-gunung lainnya karena merupakan satu-satunya gunung bersalju di Indonesia dan juga puncak tertinggi di negara ini. Selain itu, Puncak Jaya adalah satu dari rangkaian tujuh puncak dunia yang wajib didaki oleh para pendaki gunung manapun.
Akhir kata sebuah kesimpulan di dapat bahwa selain heterogennya bangsa ini geografinya pun juga heterogen. Setidaknya ini adalah anugerah namun juga tantangan.
Mudik: Prestisius-universalnya sebuah tradisi
0 komentar Published Sabtu, 04 September 2010 by jagurdermuluk in Tradisi IndonesiaSetiap tahun bila menjelang akhir-akhir ramadhan, telinga kita akan selalu mendengarkan kata seperti ini: mudik. Hampir di tiap media dan juga pembicaraan lisan orang-orang sekitar rumah mudik akan selalu menjadi tema favorit. Bahkan karena favorit dan juga prestisiusnya, mudik akan selalu mendapat tempat juga dalam berbagai pemberitaan mulai dari pemberangkatan, persiapan hingga berita ketika para pemudik sampai. Tak hanya itu berita-berita yang berkaitan dengan mudik tak selalu positif, tetapi juga negatif mulai dari kecelakaan, pencopetan dan penjambretan.
Mudik bagi banyak orang adalah pulang ke kampung atau daerah asal. Hal ini sesuai dengan pernyataan dalam KBBI yang menyatakan mudik adalah kegiatan pergi ke udik. Pergi di sini dinyatakan pergi untuk pulang sedangkan udik bisa bermakna pedalaman, hulu sungai atau desa/kampung.
Sesungguhnya, hampir setiap hari dan waktu orang yang jauh dari kampung halamannya akan melakukan kegiatan mudik entah itu karena masalah keluarga atau karena ada kegiatan besar di kampung halamannya. Jadi, bisa dikatakan mudik adalah semacam kegiatan yang sebenarnya biasa-biasa saja. Namun, adalah kebalikannya jika hal tersebut dilakukan menjelang hari-hari besar keagamaan seperti idul fitri. Nilai mudik itu menjadi luar biasa sebab yang melakukan mudik rupa-rupanya memanfaatkan mudiknya untuk berkumpul merayakan idul fitri bersama keluarga dan teman-teman di daerah asal. Maka memang ada ungkapan bahwa mudik akhirnya menjadi kewajiban.
Karena nilainya yang mendekati hari-hari besar keagamaan maka sudah dipastikan jumlah yang mudik akan selalu membludak. Sering kita lihat ada pemudik yang rela menunggu berjam-jam di terminal, stasiun, bandara dan pelabuhan hanya untuk mendapatkan tiket pulang (yang bahkan mahal di atas harga rata-rata) dan transportasi yang mengangkut mereka. Selain itu juga beberapa pemudik yang kebanyakan adalah para pekerja di berbagai sektor seperti perkantoran, perbankan, bahkan pedagang pasar atau pedagang kecil akan rela meninggalkan pekerjaannya demi mudik bersama keluarga dan itu dilakukan beberapa hari menjelang lebaran.
Jika melihat situasi di atas sudah dipastikan akan selalu terjadi desak-desakan bila menaiki transportasi yang ditunggunya dan banyak juga yang tidak terangkut. Beberapa solusi dilakukan seperti program mudik bersama atau penyediaan transportasi alternatif.
Pada dasarnya mudik juga mengandung banyak keuntungan terutama bagi mereka pihak yang menyediakan fasilitas untuk pemudik, pihak pengelola angkutan umum serta juga pihak-pihak yang memberitakan kegiatan mudik seperti media masa dan cetak dengan menggandeng beberapa sponsor dalam berbagai pemberitaan. Keuntungan lainnya adalah kota-kota besar akan menjadi lengang selama ditinggal sebagian besar para penghuninya yang mudik.
Mudik sejatinya adalah tradisi yang sudah mengakar di Indonesia dan tradisi ini sifatnya universal dan tidak terkait dengan satu hari keagamaan saja karena pasti setiap akan menjelang hari keagamaan orang-orang yang mempunyai sangkut-paut dengan agamanya akan melakukan kegiatan tersebut meskipun akan ada banyak perjuangan yang akan dilalui namun ketika sudah melewati ada kelegaan yang dimiliki sebab tujuan untuk berkumpul bersama keluarga dan teman-teman sudah terpenuhi. Hal ini menjadikan mudik harus selalu dilestarikan meskipun setelah mudik nanti masalah baru muncul yaitu munculnya pendatang baru yang hendak mencari nafkah.
Konlik Indonesia-Malaysia: Konflik siapa?
0 komentar Published Kamis, 02 September 2010 by jagurdermuluk in Konflik Indonesia-MalaysiaDalam sebulan ini media-media nasional diramaikan dengan berita konflik antara Indonesia dan Malaysia. Konflik itu berawal dari penangkapan 3 petugas DKP di dekat Batam oleh kepolisian Diraja Malaysia pada medio pertengahan Agustus lalu. Konflik dengan negara tetangga seperti Malaysia sudah sering terjadi dari tahun ke tahun. Dimulai dari sengketa Sipadan, Ligitan, kasus TKI, sengketa blok Ambalat hingga klaim beberapa produk kebudayaan bangsa sendiri.
Bila pada konflik-konflik sebelumnya Malaysia yang selalu dihujat oleh rakyat Indonesia yang berdemo adem-ayem saja apalagi juga rakyatnya, maka pada konflik ini kali ini pihak yang dihujat bereaksi. Hal ini dikarenakan pada awal akhir Agustus kedubes Malaysia yang berada di Jakarta yang untuk kesekian kali menjadi sasaran demo kemarahan beberapa orang Indonesia yang geram dengan sikap Malaysia menginjak-injak dan membakar bendera Malaysia serta melemparkan bendera itu dan kedubesnya dengan kotoran manusia. Tindakan seperti itu jelas membuat Malaysia marah dan mengeluarkan nota protes beserta saran bepergian ke Indonesia meskipun pada akhirnya itu batal dilaksanakan mengingat Malaysia masih punya kepentingan dengan Indonesia. Dari pihak Indonesia atas desakan dari berbagai elemen akhirnya pemerintah Indonesia mau juga mengeluarkan nota protes dan tanggapan bahkan memang ada pihak yang menginginkan bila perlu perang meskipun sepertinya hal itu akan urung terjadi mengingat sekali lagi kedua negara masih saling membutuhkan.
Namun, coba perhatikan! Seperti ada yang mengganjal dalam tiap konflik dengan negeri jiran tersebut yang katanya serumpun. Demo-demo menentang dan mengganyang Malaysia bahkan yang anarkis malah kebanyakan terjadi di Pulau Jawa, Bali, bahkan hingga Makassar sedangkan di Sumatera, Kalimantan, Maluku hingga Papua terlihat malah adem-ayem dan diam saja. Ada apa gerangan?
Baiklah untuk pertama-tama kita ke Sumatera dahulu. Pulau pertama di Indonesia sebelum Jawa yang terdiri dari 10 provinsi terlihat adem-ayem karena menganggap negara yang sedang dijadikan bahan konflik ini adalah negara yang mempunyai kesamaan budaya dan adat-istiadat yaitu, Melayu. Jadi, berkonflik dengan Malaysia sama saja seperti memerangi saudara sendiri. Perlu diketahui bahwa beberapa kesultanan di Sumatera seperti kesultanan Deli dan Siak masih mempunyai kerabat di beberapa kesultanan di Malaysia. Bahkan tak hanya kesultanan tetapi juga beberapa warga di Sumatera masih mempunyai keluarga di sana. Umumnya mayoritas pekerjaan orang-orang di Sumatera adalah pedagang dan memang seringkali mereka menjual barang dagangannya ke Malaysia dan begitu juga Malaysia. Karena hal tersebutlah orang-orang baik di Sumatera maupun Malaysia selalu merasa seperti di rumah sendiri jika kedua-duanya saling berkunjung. Tak pernah terdengar berita konflik antara orang-orang di Sumatera dan Malaysia karena kesamaan tersebut.
Kalimantan sama halnya dengan Sumatera. Kebudayaan Kalimantan yang sudah terkenal, Dayak menjadi penyebabnya beserta juga kebudayaan melayu yang memang di Kalimantan adalah tempat asalnya. Beberapa orang di Kalimantan juga mempunyai kerabat di Malaysia terutama yang di perbatasan yang merasa tidak dipedulikan oleh pemerintahnya sendiri sehingga mereka pun sekarang malah apatis terhadap permasalahan di Indonesia. Jadi, konflik ini mereka tidak mau ambil pusing.
Lalu bagaimanakah di Timur? meskipun beberapa orang Maluku sempat marah karena lagu tradisional mereka, rasa sayange sempat diklaim sebagai lagu pariwisata Malaysia, namun jelas hingga hari ini tidak terlihat aktivitas demo ganyang Malaysia (sepertinya orang-orang Maluku juga sudah apatis terhadap hal tersebut karena rupanya pemerintahnya sendiri malah tidak bisa menjaga warisan budaya mereka) apalagi di Papua yang merasa berbeda dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia dan beberapa generasi mudanya selalu berteriak ingin merdeka karena diperlakukan tidak adil oleh pejabat-pejabat di luar mereka. Konflik dengan Malaysia tidak ada sangkut-pautnya dengan mereka.
Jadi, jika dilihat ke atas lagi mengapa kebanyakan demo-demo itu terjadi di Jawa, Bali, dan juga Makassar?
Ada baiknya untuk yang satu ini kita melirik lagi yang namanya kesamaan budaya atau serumpun. Keserumpunan Indonesia dan Malaysia sebenarnya hanya dilihat dari faktor kebudayaan melayu yang tersebar di Sumatera dan Kalimantan. Namun, entah mengapa keserumpunan itu malah menyebar ke pulau-pulau lain dalam hal ini Jawa, Bali, hingga ke Timur. Nah, jika kita perhatikan lagi tentu saja ada perbedaan antara orang-orang di Jawa dengan yang di Sumatera.
Perbedaan ini jelas bersifat sukuisme dan juga mayoritas pekerjaan. Antara suku Melayu dengan suku Jawa baik di dalamnya juga suku Sunda tentu berbeda karakter. Ada yang mengatakan bahwa suku Melayu itu malas, tidak suka pekerjaan yang kasar dan lebih menyukai berdagang sedangkan baik Jawa maupun Sunda dikatakan ulet, sabar, dan rajin dan rela melakukan pekerjaan kasar yang penting semua itu ikhlas dan nrimo. Maka, memang di Indonesia jika kita melihat kenyataan umum yang berlaku kebanyakan buruh bahkan yang murah sekalipun berasal dari Jawa. Apa pernah kita mendengar buruh kasar dari Sumatera katakanlah dari Minangkabau yang ternyata lebih suka berdagang dan membuka usaha kuliner.
Akibatnya karena mau dibayar murah asal perut terpenuhi dan juga keikhlasan maka maulah para buruh dari Jawa ini mengadu nasib di Malaysia sebagai buruh rumah tangga dan akhirnya sering menjadi korban dan itulah kenyataan yang berlaku. Hal itu terjadi karena mereka dianggap rendah bahkan juga beberapa di antara mereka ada yang tidak bersambung saat berkomunikasi dengan majikannya yang bermelayu kental sedangkan mereka hanya bisa berbahasa Indonesia itu pun masih terpengaruh bahasa daerah mereka. Hal inilah yang sering menjadi kesalahpahaman.
Sedangkan Bali itu karena mereka merasa dikangkangi Malaysia karena salah satu tariannya setahun lalu diklaim dalam produk pariwisata negeri jiran tersebut. Selain itu kekerabatan historis mereka dengan orang-orang Jawa juga menjadi penyebab mereka merasa harus berdemo ganyang Malaysia.
Lalu Makassar berdemo karena emosi orang-orang tersebut yang cepat naik darah jika mendengar hal yang panas-panas. Kota ini seringkali menjadi sorotan nasional karena beberapa mahasiswanya kerapkali tauran dengan anarkis. Namun, jika diperhatikan ternyata yang berdemo hanya sebagian elemen saja karena ternyata beberapa orang di Makassar dan sekitarnya juga mempunyai kekerabatan historis dengan Malaysia dan beberapa juga masih mempunyai sanak-saudara di sana.
Bila melihat kenyataan di atas maka ternyata sebenarnya yang berkonflik dengan Malaysia itu adalah orang-orang Jawa dalam hal ini orang-orang dari suku Jawa juga Sunda (Orang-orang Betawi yang merasa juga mempunyai akar kebudayaan Melayu juga terlihat diam). Konflik itu dikarenakan orang-orang dari Suku Jawa dan Sunda seringkali menjadi korban kekerasan bahkan hukuman mati. Pada akhirnya juga karena mereka menjadi korban maka orang-orang dari suku mereka pula yang begitu ribut dan emosi. Bahkan dalam beberapa tayangan televisi yang sering berkoar-koar adalah orang-orang dari Jawa baik itu pengamat hukum internasional, politik, menteri, dan juga akademisi. Tak pernah ada satu pun selain dari itu. Hal ini saja pun seperti menyimpulkan bahwa bangsa yang terdiri dari berbagai pulau dan kebudayaan ini saja seperti tak ada satu kata dan seperti berdiri di atas kepentingan sendiri yang dibungkus menjadi kepentingan nasional yang akhirnya menjadi hangat di berbagai media. Pada akhirnya, orang-orang termasuk saya akan malas melihatnya lagi sebagai sebuah kebutuhan nasionalisme.
Kalau saya putar lagi ada semacam gengsi di antara orang-orang Jawa yang pada masa dahulu mempunyai kekuatan yang superior lewat Majapahit. Orang-orang Jawa jelas tidak mau kehilangan martabatnya jika menghadapi orang-orang Melayu sebaliknya orang-orang Melayu seperti merasa dianaktirikan sebab orang-orang Jawa menguasai hampir seluruh bidang kehidupan karena keuletannya sehingga mungkin banyak dari mereka yang pergi merantau dan menetap di rumah saudaranya di Malaysia lalu melakukan balas dendam terhadap orang-orang Jawa yang menjadi buruh rumah tangga.
Saya bukannya mau menimbulkan disintegrasi tetapi saya melihat kenyataan yang ada. Meskipun nasionalisme selalu didengung-dengungkan tetapi sukuisme masih merebak di mana-mana. Prasangka buruk atas suku ini dan itu pada akhirnya yang menjadi penghambat untuk bersatu. Saya hanya menyarankan kepada orang-orang Jawa agar lebih baik semuanya menjadi pedagang karena dengan profesi seperti itu setidaknya akan dihormati. Ada baiknya juga segala prasangka buruk dihilangkan dan ingat semuanya harus seiya sekata dalam bertindak. Terakhir, keberadaan orang-orang Melayu baik di Sumatera dan Kalimantan juga ada untungnya karena merekalah yang bisa mencegah peperangan antara Indonesia dan Malaysia.
Palangkaraya memang pas!
0 komentar Published Senin, 09 Agustus 2010 by jagurdermuluk inPalangkaraya. Berulang kali nama tersebut diucapkan oleh banyak pihak terkait dengan kemacetan Jakarta. Lantas apa hubungannya? Kemacetan yang terjadi di Jakarta, ibukota negara ini, makin merisaukan banyak pihak terutama para pemerhati lingkungan hidup. Apa yang terjadi di Jakarta akibat kemacetannya yang menjadi-menjadi menjadikan kota tersebut tidaklah layak lagi untuk dijejali banyak kendaraan bermotor yang selalu memenuhi ruas-ruas jalan yang sejujurnya tidak sebanding. Dari tahun ke tahun kemacetan terus bertambah. Usulan demi usulan untuk sesuatu yang alternatif makin digalakkan. Mulai dari pengadaan transportasi umum yang nyaman hingga pemindahan ibukota. Cara pertama telah dilakukan insan pemerintah provinsi DKI Jakarta dengan mengadakan busway dan waterway. Sayang, minat masyarakat masih kurang dan lebih senang memakai mobil pribadi. Hal ini dikarenakan angkutan umum yang ada kurang memadai dan terpercaya. Busway yang digadang-gadang bakal menjadi solusi kemacetan malah ikut-ikutan ambruk apalagi waterway. Kemudian muncul usulan Mass Rapit Transit yang berbasis keretaapi. Namun, ternyata banyak yang meragukan usulan ini karena MRT pada dasarnya belum bisa menjamin kota bebas macet jika masyarakatnya masih sekali lagi tergantung pada kendaraan pribadi dan untuk sekarang saja transportasi keretaapi yang ada masih saja terkendala masalah sinyal listrik.
Akhirnya usulan lain muncul yaitu pemindahan ibukota. Jakarta yang telah menanggung peran yang begitu multi baik sebagai ibukota pemerintahan, bisnis dan perdagangan, dan pusat budaya terlihat sudah kewalahan dengan beban ganda seperti itu. Ada yang menginginkan agar peran Jakarta dikurangi satu-persatu terutama dalam pemerintahan. Kemudian ada yang mengusulkan agar pusat pemerintahan dipindahkan ke Palangkaraya, ibukota Kalimantan Tengah. Usulan pemindahan ke Palangkaraya itu juga bukan usulan sembarangan mengingat letaknya yang berada di tengah Kalimantan Tengah dan terbilang strategis. Kota yang dahulu bernama Pahandut ini bahkan merupakan kotamadya terbesar se-indonesia yang masih terbilang asri karena mempunyai hutan konservasi di tengah-tengah dan sekelilingnya. Palangkaraya sendiri berdiri pada 1957 sejalan dengan pembentukan provinsi Kalimantan Tengah. Bahkan Bung Karno pada waktu pembentukannya sempat ingin menjadikan Palangkaraya sebagai ibukota daripada Jakarta yang pada masanya saja sudah dihinggapi banyak masalah seperti banjir. Namun, pada akhirnya keinginan itu tidak jadi karena tantangan dari banyak pihak yang lebih menginginkan Jakarta. Keinginan Bung Karno itu muncul itu ketika meresmikan landmark Palangkaraya berupa monumen dan bundaran di Pahandut yang ternyata beliau juga ikut andil.
Jikalau Palangkaraya dijadikan pusat pemerintahan maka Jakarta hanya akan menjadi pusat bisnis dan perdagangan saja. Ini seperti mengingatkan kita pada Washington dan New York di AS. Apabila Palangkaraya dijadikan ibukota tentu akan banyak keuntungan yang didapat seperti bisa memajukan daerah setempat dalam hal ini Kalimantan. Pembangunan transportasi kelas satu seperti rel keretaapi yang belum ada sama sekali di bumi borneo dan transportasi air akan lebih diperhatikan juga karena selama ini Kalimantan terkenal dengan sungai-sungainya yang menjadi andalan untuk transportasi dan tentu jika ibukota benar-benar di sana daerah perbatasan bisa diawasi apalagi illegal logging. Pada dasarnya semua itu juga akan melahirkan pemerataan karena selama ini kita melihat Indonesia selalu terpusat di Pulau Jawa sedangkan pulau-pulau lain terabaikan. Padahal Indonesia bukan hanya Jawa. Jadi, tunggu apa lagi?
Piala Dunia: Antara Indonesia dan kontroversi berkepanjangan Timnas 1938
0 komentar Published Rabu, 30 Juni 2010 by jagurdermuluk in Timnasku
Gelaran Piala Dunia yang sedang berlangsung di Afrika Selatan memang gelaran yang tidak biasa bagi banyak penghuni bumi. Bagaimana tidak dengan sifatnya yang 4 tahun sekali amatlah pantas jika gelaran ini adalah gelaran yang ditunggu-ditunggu daripada gelaran-gelaran lain termasuk gelaran politik. Di sinilah semua pemain yang berasal dari 32 negara terpilih unjuk kebolehan bermain sepakbola demi negaranya. Selain itu, karena sifatnya yang 4 tahun Piala Dunia kerap menghadirkan drama di dalam dan luar lapangan serta sering menjadi kajian beberapa ahli dispilin ilmu. Dari situ saja kita sudah bisa berpendapat bahwa Piala Dunia adalah sesuatu yang begitu mempesona, magis, dan universal.Ketika Piala Dunia berlangsung dan semangatnya juga terasa di negeri tercinta ini, selalu saja ada pertanyaan: Kapan Indonesia melangkah ke final kejuaraan tersebut? Jika berbicara mengenai hal ini jawaban yang didapat bisa beragam mulai dari yang bilang beberapa puluh tahun mendatang atau tidak sama sekali jika melihat prestasi timnas yang sekarang acak adul dikarenakan kepemimpinan dalam tubuh olahraga sepakbola terbesar di negeri ini, PSSI. Memang hampir semua penggila bola merindukan dan memimpikan timnas bisa bermain di ajang akbar tersebut. Menyanyikan lagu kebangsaan "Indonesia Raya" yang membuat semua orang bisa bangkit rasa nasionalismenya dalam sekejap seperti yang terlihat pada gelaran Piala Asia 2007.
Beberapa solusi telah banyak diberikan demi timnas namun dari sekian banyak solusi ternyata tak semua mau menjalankan apalagi jika itu diarahkan pada PSSI. Kebanyakan solusi itu bersifat klise karena membicarakan tentang pembinaan usia dini, kompetisi yang teratur dan sebagainya. Namun, tak ada yang membicarakan bagaimana membudiyakan sepakbola ke dalam setiap hati masyarakat Indonesia sebagai sebuah budaya dan kebanggan nasional seperti yang terlihat di Brazil. Kebanyakan di negara ini sepakbola seperti olahraga lainnya masih dianggap sebuah permainan menang-kalah yang dampaknya belum terlihat pada kehidupan orang banyak. Pemikiran itulah yang masih ada dalam setiap benak orang di negeri ini. Sepakbola pun hanya dilihat sebagai sebuah komoditas sesaat dan setelah itu seperti habis manis sepah dibuang dan yang benar-benar menikmati sepakbola lebih dari sekedar permainan hanya segelintir saja.
Namun, saya juga tak mau panjang lebar soal itu karena saya yakin masyarakat di sini lama-kelamaan bisa berkembang pikirannya dan dalam hati siap menyatakan sepakbola sebagai budaya dan kebanggan nasional. Kemudian saya ingin membicarakan lagi mengenai timnas. Memang banyak yang bilang timnas tidak pernah tampil di Piala Dunia namun ada yang sebaliknya. Coba sekarang Anda buka situs fifa.com dan cari tentang negara-negara anggota fifa dengan mengklik "Indonesia". Ketika Anda sudah dihadapkan pada halaman "Indonesia" lihat ke sebelah kanan atas dan Anda akan menemukan tulisan "Honour" dan di bawahnya ada tulisan "FIFA World Cup Appereances" di bawah tulisan ini lagi tertera "1 (1938).
Apa itu artinya? Itu artinya adalah bahwa negeri ini pernah tampil di Piala Dunia tepatnya Piala Dunia ke-3 pada 1938 di Perancis. Namun, memang tim yang tampil itu memakai nama Hindia-Belanda sebab ketika itu Indonesia masih dalam kekuasaan Belanda dan penampilan tim yang dikapteni oleh Achmad Nawir itu harus terhenti lebih awal karena disingkirkan Hungaria 6-0. Ini kemudian yang menjadi kontroversi semua pihak. Ada yang menyatakan setuju dan ada yang tidak. Yang setuju mengatakan dengan alasan bahwa tanpa memandang Hindia-Belanda yang melekat di dalam tim tetapi tim itu merupakan representasi dari kepulauan besar di khatulistiwa yaitu yang sekarang bernama Indonesia. Dan yang tidak beralasan sebab Hindia-Belanda adalah nama negara dalam kekuasaan Belanda. Tim yang bermain pun juga bermain atas nama Belanda dan menyanyikan lagu "Wilhelmus" dan kalaupun representasi itu hanya sedikit sebab kebanyakan pemain diambil dari Jawa tepatnya dari Surabaya. Bahkan untuk hal yang tidak setuju ini, Soekarno pun berpendapat demikian bahwa yang bermain di Piala Dunia adalah Belanda bukan Indonesia.
Saya sendiri dalam hal ini lebih senang menyatakan bahwa timnas negeri ini pernah tampil di Piala Dunia 1938. Meskipun bernama Hindia-Belanda tentulah itu bukan sebuah alasan untuk mengatakan bahwa ini bukan timnas Indonesia. Sebab saya melihatnya dalam konteks poskolonial yaitu berarti semua yang berhubungan dengan kolonial di masa lampau dikaji kembali namun dalam perspektif berbeda. Kita sekarang tidak usah terlalu menafikkan dan memunafikkan diri bahwa sesuatu yang berbeda itu bukan milik kita. Jika ada yang mengatakan bahwa timnas yang ada pada Piala Dunia 1938 bukan representasi keseluruhan hal itu dapat dimaklumi mengingat pada masa itu perkembangan sepakbola masih sebatas di Pulau Jawa yang memang merupakan olahraga ini diperkenalkan dan satu lagi kehadiran timnas itu malah membuat banyak orang mengenal tentang negara bernama Hindia-Belanda akan tetapi sering disebut Indonesia oleh para pribuminya dan apakah para pemain pribumi yang berada dalam tim itu akan terus loyal. Tentu saja tidak. Dibalik kostum itu rasa dan nama Indonesia tetap tertera. Nah, sekarang yang menjadi pertanyaan apakah terus kita akan selalu diam tak mengakui padahal negara lain pun mengakui apalagi FIFA sebagai organisasi sepakbola terbesar dunia? Jika dikaitkan dengan kondisi sekarang haruslah itu diakui sebab bagaimanapun ini adalah produk heterogen bangsa ini dan sama halnya kita yang juga akhirnya mengakui etnis Cina. Saya sendiri juga mendapat cerita bahwa KNVB, organisasi sepakbola Belanda juga tidak mengakui. Nah, dari situ sekali lagi akankah kita terus seperti ini? Bila satu pihak tidak mau mengakui hendaknya kita mengakui atau malah ini akan tetap menjadi yang sesuatu yang liyan (the others).
Jelajahi Negerimu, Anak Bangsa!
0 komentar Published Selasa, 22 Juni 2010 by jagurdermuluk in NegerikuIndonesia memang negara yang luas dan termasuk negara terluas selain Amerika Serikat, Cina, Australia, Kanada dan juga Afrika Selatan. Namun, Indonesia menjadi luas bukan karena daratannya tetapi karena perairannya yang menjadi pemisah antara satu pulau dengan pulau lainnya dan hal itu yang memang menjadikan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.
Karena luasnya tak semua orang Indonesia bisa menjelajah untuk mengenal negaranya. Hal ini disebabkan:
- Kurangnya sosialisasi tentang suatu wilayah apalagi wilayah yang terpencil yang juga dikarenakan kurangnya akses. Ini yang banyak terjadi di Indonesia timur.
- Mahalnya dana juga menjadi penghalang bagi tiap orang Indonesia untuk menjelajahi wilayahnya apalagi yang berada di bawah garis kemiskinan.
- Orang Indonesia lebih suka ke luar negeri karena lebih terpesona oleh yang berada di luar sana. Padahal jika dilihat darim keindahan Indonesia memiliki segala-galanya.
Atas dasar itulah usai reformasi banyak tayangan yang mengambil tema-tema perjalanan dengan tujuan supaya tiap-tiap orang di negeri ini bisa tahu dan menjelajah wilayahnya apalagi jika kemudian diberikan fitur seperti tips perjalanan dan biaya. Hal tersebut juga sejalan dengan keinginan depbudpar melalui program utamanya "Visit Indonesia". Jadi, anak bangsa jelajahi negerimu agar kita semua tahu kondisi di luar kita dan semoga heterogenitas yang ada di negeri tetap terjaga dan terjalin.
Bahasa Betawi, Yang Luwes di Antara Kontroversi
0 komentar Published Senin, 21 Juni 2010 by jagurdermuluk in budaya
Menjelang ulang tahun ibukota Jakarta yang jatuh pada esok (22/6) bahasan mengenai kota yang akan berumur 583 tersebut biasanya dari A-Z. Bahasan itu bisa berarti sejarah, adat-istiadat, kuliner, dan juga bahasa. Nah, mengenai bahasa tentunya juga merupakan sesuatu yang tidak boleh dilewatkan atau dilupakan sebab bagaimanapun bahasa memegang peran penting dalam kehidupan bermasyarakat. Bahasa yang sering digunakan di Jakarta adalah bahasa Betawi atau disebut juga base Betawi. Bahasa Betawi jika dilihat dari ungkapan kata-katanya digolongkan sebagai bagian dari bahasa Melayu yang bersifat kreol alias campuran. Oleh karena itu bahasa Betawi termasuk juga rumpun Austronesia. Banyak kontroversi mengenai bahasa ini bila dilihat dari asal-usulnya yang sering dikaitkan dengan keberadaan orang-orang Betawi di pesisir utara Sunda Kelapa. Ada yang mengatakan bahasa ini termasuk bahasa yang muda usianya sama dengan komunitas pertama di Batavia atau Jakarta namun ada yang mengatakan sebaliknya. Bahkan saking mudanya bahasa ini malah lebih tepat dikatakan dialek. Ini juga bersumber dari keadaan yang mengatakan bahwa bahasa Melayu pasar menjadi sumber dari bahasa ini. Itulah yang dikatakan para linguis barat seperti Grijn atau Nothofer. Namun, Ridwan Saidi menolak anggapan tersebut dengan mengatakan bahwa bahasa Betawi bukan dialek sebab dia bagaimanapun juga mempunyai sistem tata bahasa dan Melayu pasar hanyalah salah satu unsur saja.Bahasa Betawi mempunyai daerah pertuturan di jabodetabek. Itu berarti meliputi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Nah, kalau di Bogor terutama di daerah dari Citayam sampai Cilebut. Bojonggede bahkan termasuk dalam urutan tersebut. Bahkan jika berbicara Sunda di daerah-daerah tersebut terutama di Bojonggede akan dianggap pejajaran alias kampungan. Anehnya, peta pemetaan bahasa Betawi terkadang tidak jelas. Orang hanya mengatakan bahwa bahasa Betawi itu di Jakarta saja dikarenakan pemetaan administratif pemerintahan.
Orang-orang daerah pun pada dasarnya mengenal bahasa Betawi. Hanya saja yang mereka kenal itu hanya sebatas pada bahasa gaul anak Jakarta yang merupakan turunan dari bahasa Betawi dengan menggunakan kata "gue" dan "lo". Padahal bahasa Betawi tak segampang itu. Masih banyak kosakata yang sepertinya jarang orang tahu dan bukan sebatas "gue" dan "lo"
Namun, bahasa Betawi pada akhirnya tidak bernasib seperti penuturnya yang mulai tergeser ke daerah pinggiran. Semua itu berkat Firman Muntaco yang mempopulerkan bahasa tersebut dalam karyanya, Gambang Jakarta. Karena keluwesannya bahasa tersebut digunakan banyak media massa. Namun, tetap saja jika tanpa penutur asli bahasa tersebut bisa punah dan tentu saja akan menghilangkan heterogenitas bahasa di negeri ini.
Langganan:
Postingan (Atom)



